Galeri project bimbingan klasikal kelas VII A dengan topik bimbingan klasikal Remaja Anti Bullying. Jenis project yaitu video pendek, poster digital, poster manual, dan cerpen. Project ini dikerjakan oleh beberapa kelompok. Pembagian kelompok disesuaikan dengan minat dan kelebihan masing-masing.
Hasil poster dari dua kelompok yang memilih membuat poster. Poster digital dan poster manual yang begitu indah dan berisi banyak makna. Good job, hebat.
KUMPULAN KELOMPOK CERPEN
si Gundul
Di sebuah kampung yang dekat dengan pedalaman, hiduplah satu keluarga yang tinggal di rumah sederhana. Mereka memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Rian. Ia tumbuh tinggi dan kurus, kepalanya yang tak terdapat sehelai rambut pun jika terkena sinar matahari yang terik kepala anak laki-laki itu menjadi berkilau dan nampak lucu. Karena kepalanya yang tidak terdapat rambut, ia dipanggil si Gundul.
Si Gundul di kampung tidak memiliki seorang pun teman. Ia selalu dijauhi dan diejek oleh teman-temannya karena kepalanya yang botak. Hal ini menyebabkan si Gundul menjadi rendah diri dan tersisih. Setiap hari sepulang sekolah, ia selalu berjalan melihat temannya yang tengah asik bermain bersama. Ketika si gundul mendekati mereka pasti si Gundul diusir oleh mereka.
Si Gundul menjadi tidak percaya diri karena ejekean, hinaan, dan disisihkan oleh teman-temannya. Si Gundul juga tidak memiliki semangat dan selalu merasa dikucilkan oleh siapapun sampai dia ingin mengakhiri hidupnya karena merasa putus asa selalu dibully di kehidupan ini. Akan tetapi, si Gundul masih berfikir untuk sekian kalinya bahwa ia masih memiliki ayah, ibu, dan adik yang harus ia bahagiakan.
Keesokan harinya, saat ia akan berangkat sekolah si Gundul dikerjai oleh anak kampung sebelah yang terkenal seperti preman. Si Gundul dilempari dengan batu dan lumpur. Ia hanya menerima itu semua dengan hati yang sangat lapang dan tidak membalasnya.
Setibanya di sekolah, ia hanya berdiam diri sampai jam sekolah berakhir. Seperti biasanya ia pulang sendiri dengan pikiran yang teramat jenuh dan ingin menyelesaikan semua ini. Seperti merasa lelah dan sudah tidak tahan lagi.
Sesampainya di rumah, ia hanya menghabiskan waktu dengan berdiam diri di ruang tamu. Lama-lama si Gundul merasa bosan. Ia berfikir untuk melakukan sesuatu hal untuk mengisi waktunya dan menghilangkan kejenuhan yang ia rasakan.
Si Gundul merupakan anak yang punya kelebihan atau bisa dibilang bertalenta. Dengan dibantu oleh ayahnya, ia menebang pohon bambu yang besar itu kemudian dibelah dengan ukuran yang tidak begitu kecil. Setelah dipotong-potong bambu itu dibuat mejnadi sebuah layangan yang cukup besar.
Pada suatu hari setelah pulang sekolah, si gundul pergi ke lahan kosong yang cukup luas. Ia mulai mengayunkan tangannya dan memainkan layangan tersebut sehingga layangan itu telah terbang tinggi mendekati angkasa.
Salah satu teman si gundul yang tengah asik bermain bersama dengan yang lainnya di tempat yang berbeda tak sengaja melihat layangan si gundul.
"Wah, besar banget layangannya, punya siapa itu?" tanya Udin.
"Gak tau, gak pernah lihat sebelumnya" jawab Asia.
Karena penasaran, mereka secara bersama-sama berjalan bersama menuju sumber layang-layang itu diterbangkan. Hasilnya tak pernah disangka oleh mereka satupun.
Netra menangkap sosok laki-laki berkepala botak yang sedang memainkan layangan itu. Lelaki itu lah yang selama ini mereka jauhi. Setelah terbukti bahwa si Gundul yang membuat layangan itu, mereka baru percaya. Teman-teman si Gundul tak habis pikir bahwa yang bermain layanangan besar itu adalah si Gundul atau Rian. Akhirnya, mereka medekatinya dan bertanya dari mana ia mendapatkan layangan itu.
Si Gundul yang masih memainkannya menjawab bahwa ia sendiri yang membuatnya. Mereka tertawa seakan tak percaya bahwa si Gundul yang membuat layangan itu.
Keesokan harinya, ia pun membuktikannya dengan mengajak seluruh teman-temannya itu pergi ke rumahnya. Saat itu juga mereka meminta maaf pada si Gundul karena selama ini telah menjauhinya dan tidak pernah mau bermain bersamanya. Dengan murah hati, si Gundul memaafkan semua perbuatan temannya itu dengan senang hati.
Setelah itu, mereka berteman baik dengan si gundul kecuali satu orang yang sangat membenci si Gundul yaitu Udin karena merasa tersaingi oleh si Gundul. Dengan begitu, sekarang palah Udin yang tidak mempunyai teman.
Dari hal itu kita belajar bahwa kita membutuhkan satu sama lain.
End.
Namaku Jessica, aku baru duduk di bangku SMP. Aku hidup sederhana bersama kedua orang tuaku. Ayah bekerja sebagai buruh tani dan ibuku pedagang keliling.
Setiap hari aku diantar ayahku ke sekolah menaiki sepeda. Di sekolah aku sering dibully oleh teman-temanku. Setiap aku berada di kelas aku sering diejek karena aku berangkat sekolah dengan menaiki sepeda.
Bel sekolah sudah berbunyi itu tandanya jam pelajaran segera dimulai. Saat aku sedang menggambar, teman sekelasku yang suka mengejek dan membully di kelas namanya Karin. Dia mengambil buku gambarku lalu merobeknya.
"Apa-apaan kamu, kok buku gambarku disobek!" Ucap Jessica.
"Terserah aku dong, tinggal beli lagi kan bisa." Ucap Karin.
"Iya, tinggal beli lagi yang baru." Ucap Syifa, teman Karin.
"Oh iya lupa, dia miskin." Ucap Karin.
"Eh, iya ya, sorry ya." Ucap Syifa.
"Iya, Sorry ya, mau aku beliin lagi" Ucap Karin.
"Hmm, nggak usah rin gapapa." Ucap Jessica.
Karin dan Syifa pun pergi ke tempat duduk mereka. Setelah jam pelajaran selesai, semua siswa istirahat. Sedangkan Jessica membawa bekal.
"Aduh, gak punya uang ya, sampai bawa bekal." Ucap Karin.
"Kasihan banget," ucap Syifa dengan sengaja Karin menumpahkan air minum ke bajunya.
"Eh sorry, gak sengaja." Ucap Karin.
"Yah, jadi basah deh, kasihan banget si..." ucap Karin.
Jam sekolah pun selesai, aku langsung pulang. Sesampainya di rumah aku menangis dan aku terus memikirkan bagaimana dengan hari esok.
End.